The light my Fire (indonesia Light novel)
Bagian 2
...arh
Riku terbangun, jantungya berdetak dengan cepat , nafasnya terasa pendak dan sesak.
Terlihat keringat dingin membasahi punggungnya.
Beberapa detik ia mulai tersadar ada sesuatu yang lembut mengalir di pipinya.
'Aku menangis'
Sambil mengusap mata, kilauan cahaya matahari terlihat mudah menembus dedaunan di pagi hari.
Suasana hutan yang tenang membuat tempat ini begitu menakutkan saat malam hari tiba.
....Eliza..
Riku mengumandang dalam hati, ia tidak berpikir hal yang terjadi hanyalah sebuah mimpi belaka.
Selama tujuh tahun ini, aku terus bertahan hidup, tak peduli apapun yang terjadi aku terus melangkah ke depan,
namun setelah semua hal yang terjadi, Aku..
(Jangan ubah pandanganmu tentangku.)
Terlintas di pikiran Riku, walaupun hanya sekejap namun kata-kata itu seakan memenuhi pikiranya.
...hahhh...
Riku mendesah kecil,
sabil melihat ke atas terlihat burung-burung bergerak bebas di pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi.
Beberapa dari meraka terlihat bergerak bebas dari ranting ke ranting, dengan berwarna kuning dan coklat kemerahan.
dan beberapa yang lain memiliki warna merah-jingga.
Riku memandang ke atas, namun pikiran dan hatinya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Apakah yang tadi itu pesan dari pikiran.
Sambil menyandarkan tubuh di sebuah pohon besar Riku terus memikirkan hal yang di sebut mimpi itu.
Hembusan angin membuat beberapa daun berterbangan ,Terlihat gumpalan asap masih keluar dari beberapa kayu yang terbakar,
asap yang keluar menandakan perkemahan sementara yang ia lakukan pada malam hari.
Udara yang cukup dingin membuat Riku tersadar ia sedang berada di atas pohon.
terlihat ada beberapa kulit kepompong tipis menempel di lengan bajunya.
*Fyuuushhhh* Terdengar suara terpaan angin,
Tidak ini bukan angin, Tiba-tiba seketika tubuh Riku menjadi kaku.
"Ooowaahhhh"
Riku kehilangan keseimbangan dan jatuh menyentuh tanah.
Apa yang sebenarya terjadi---
...eh....
Menoleh di hadapanya terdapat anak panah menancap di pohon.
Terlihat anak panah yang menumbus pohon itu bukan anak panah dari logam, Melainkan panah yang berasal dari sihir,
Kobaran sihir bewarna biru ke hitaman masih membalut anak panah itu, tak lama kemudian pohon besar itu tumbang dan jatuh,
Untuk sesaat Riku hanya bisa terdiam, ia tidak menyadari dari mana anak panah itu berasal.
Tangan kirinya bergetar.
Hawa panas menyelimuti dan membakar tangan kirinya,
"Arghhhhhh..."
Sebuah teriakan kecil membuat Riku mendesah kesakitan, Tangan kirinya menjadi merah terbakar seakan sedang berada dalam kobaran api.
Rasa panasnya begitu menyaitkan, terlihat jelas tulisan aneh terbentuk di tangan kirinya.
---Kenapa pada waktu seperti ini---
Riku terlihat kesal dan tampak menggerutu sendiri,
sambil mengambil pisau di belakang pinggang ia mengawasi daerah di sekitarnya.
Untuk beberapa saat tidak ada yang terjadi, namun kekhawatiran Riku tidak hilang.
...hemmm....
Riku menarik nafas panjang, terlihat matanya menjadi lebih lebar dan tajam.
Iris matanya mengecil membuat refleknya menjadi lebih besar.
Angin, udara, kelembapan, suara, semua dengan jelas bisa di rasakan,
saat ini Riku memasuki 3 indra, sebuah kosentrasi yang sangat luar biasa dari manusia normal,
ia bisa merasakan detak jantung seseorang dari jarak 10 meter, merupakan kemampuan yang tidak bisa di dapatkan tanpa latihan yang keras.
..husshhh,,, "Suara angin, suara ranting pohon, suara gesekan udara, dimana ...??"
Sambil memejamkan matanya, Riku membiarkan instingnya bekerja, butir-butir keringat mulai memenuhi keningnya, membuat tubuhnya menjadi sangat panas.
"Disana."
Dengan cepat Riku melemparkan pisaunya.
Pisau yang bergerak horizontal membelah daun menjadi dua potong dan menuju ke arah semak-semak,
untuk beberapa saat.
---Tidak ada yang terjadi.
"hah..."
Riku membuang nafas, dan dengan tenang menuju ke arah semak-semak.
"Eh.."
Sebuah sayatan mengenai lehernya, walaupun hanya tergores namun itu membuat Riku terdiam.
Tubuhnya berhenti bergerak, Kakinya gemetar, beberapa saat ia merasa kehilangan kesadaran.
"Ini sihir angin"
Dengan cepat Riku berlari, terlihat jelas wajah pucatnya penuh ketakutan, jantungnya berdetak kencang.
"ARGGHHHH..."
--lebih dari dua orang, apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Melawan meraka adalah kesia-siaan, Riku menyadari itu.
Ia tidak memiliki kekuatan seperti seorang kesatria, atau seorang penyihir, ia hanyalah bocah 16 tahun tanpa kekuatan apapun,
lebih di kenal dengan 0 ability (Zero Ability).
Zero ability adalah orang yang tidak bisa mengeluarkan kekuatan atau menggunakan sihir, dan Riku termasuk salah satunya.
Kebanyakan dari mereka Zero Ability lebih dikenal dengan sebutan budak, karena mereka hanya bisa hidup dengan cara seperti itu.
Menjadi seorang Zero Ability di dunia ini adalah sampah, mereka yang menyandang nama ini tidak bisa hidup dan harus mengandalkan kekuatan fisik. Kematian selalu menghantui mereka, jadi mereka harus memiliki seorang tuan (majikan).
"Sial, sungguh sial"
Riku terus berlari dan menginjak beberapa ranting pohon, membuat beberapa burung berterbangan.
Nafasnya tidak teratur, tubuhnya seakan tidak bisa di control.
Tak ada yang bisa ia lakukan, walaupun sekeras apapun ia mencoba , berkelahi dengan seseorang yang memiliki bakat adalah bunuh diri.
Suhir itu bisa langsung membunuh sebelum aku melakukan serangan.
Riku terlihat menggigit bibirnya, rasa frustasi menghiasai wajahnya.
Sudah sangat jauh, Riku menoleh ke belakang.
"Mereka tidak mengejar"
"huff.. untunglah."
Sambil mengeluarkan nafas panjang dan dengan persaan lega.
"Ternyata mereka hanya mau mengambil barang-barang ku"
Sambil membungkuk ke depan dengan tangan memegang lutut,
ini adalah hal yang menyedihkan, tanpa ada perlawanan,
..Aku memang Pecundang..
Riku menahan keinginanya untuk segera duduk, terlihat dari kejauhan sebuah danau terbentang.
---Kreookk---
Perutnya berbunyi, sebuah reflek dari tubuh mengatakan bahwa aku harus cepat diisi.
Setelah kejadian tadi ia kehilangan uangnya,
Obat-obatan dan beberapa kristal yang di dapatakan dari membunuh hewan di malam hari.
"Sunggu sial"
Riku berjalan dengan pelan , rasa sakit di tanganya masih terasa,
untuk sesaat tangan kirinya serasa tidak bisa di gerakan.
Suara kicauan burung menemani Riku menuju Danau, hembusan angin cukup untuk melepaskan penat.
Walaupun tidak begitu jauh namun Riku enggan untuk berlari, ia selalu di ajarkan untuk tetap tenang dan selalu mengawasi daerah sekitar.
Matahari berada pada sudut 40' namun ini sudah membuat Riku bermandi keringat.
Ia sangat lelah setelah pelarian jauhnya, Rasa haus telah membening di pikiranya.
Beberapa detik tubuh Riku terasa bergetar, dadanya mulai terasa berat , nafasnya menjasi lebih sesak.
Pandangannya mulai terlihat kabur, semua alat tubuhnya menjadi mati rasa.
Tubuhnya jatuh menyentuh tanah, detak jantungya mulai melambat.
Riku mulai merasa kehilangan kesadaranya, matanya mulai menyempit, seketika semuanya menjadi gelap.
Tangan kiri Riku bercahaya, seketika ia tersadar.
"Di saat seperti ini"
---Terima kasih kau telah menyadarkan ku.
Sakit yang berasal dari tangan kirinya membuatnya menjadi sadar dengan posisi merangkak Riku menuju danau,
hanya tangan kirinya yang bisa ia gerakan, bagian tubuh lainnya masih tidak bisa di gerakan.
Wajahnya terlihat pucat, kelopak matanya hitam seperti orang yang tidak tidur selama 2 hari.
Jantungnya semakin melemah, pandangan di depanya subah membaur.
--Tinggal 2 meter lagi.
Cahaya matahari menambah rasa sakit yang di alami Riku,
tak kusangka mereka menyutikan racun pada sihir angin, mereka bukan orang yang biasa.
"Sampai di sini kah..?"
Nafasnya mulai pendek, oksigen semakin sedikit masuk ke dalam otak.
"Apa aku akan mati disini..??"
Walau jaraknya hanya beberapa centimeter namun itu tidak menghalangi bahwa Riku tidak bisa menyentuh air sama sekali.
......
"Riku..."
"Hey Riku.."
"Genggam tanganku dengan erat."
Terlihat gadis kecil umurnya berkisar 8 tahun, memiliki rambut hitam, dan bermata ungu.
Rambutnya panjang sepingang, terurai lembut di tiup angin ia begitu cantik.
"Riku ayo kesana.."
Sabil tersenyum gadis kecil itu menunjuk ke sebuah dataran yang luas di atas permukaan dataran tinggi.
--Gadis kecil itu terus membawaku
"Riku lihat pemandangan itu"
"Begitu indah kan."
Serpihan Namurian dan batu pasir yang aku injak ini begitu nyata, keindahan hutan terlihat jelas di bawah tebing yang tinggi ini.
--Apa yang harus aku katakan, apa yang harus aku bicarakan.
"Riku, jadi berjanjilah untuk tetap hidup."
Sosok anak kecil itu berubah menjadi seorang yang aku kenal selama ini, namun aku melupakannya.
---Eliza-
"Eliza.."
Riku tebangun, dengan menyebut namanya seseorang yang penting di hidupnya rasa putus asanya berakhir dan rasa kepasrahanya berakhir.
--Aku tidak akan mati disini.
--Sungguh kau memang orang yang menjengkelkan Eliza.
Tubuh Riku mesuk kedalam air, pakainya semua menjadi basah,
air danau cukup dingin membuat bekas luka di leher mulai membengkak,
"Ternyata memang racun"
Mereka bukan hanya mau mengambil barang-barangku namun nyawaku juga.
...arh
Riku terbangun, jantungya berdetak dengan cepat , nafasnya terasa pendak dan sesak.
Terlihat keringat dingin membasahi punggungnya.
Beberapa detik ia mulai tersadar ada sesuatu yang lembut mengalir di pipinya.
'Aku menangis'
Sambil mengusap mata, kilauan cahaya matahari terlihat mudah menembus dedaunan di pagi hari.
Suasana hutan yang tenang membuat tempat ini begitu menakutkan saat malam hari tiba.
....Eliza..
Riku mengumandang dalam hati, ia tidak berpikir hal yang terjadi hanyalah sebuah mimpi belaka.
Selama tujuh tahun ini, aku terus bertahan hidup, tak peduli apapun yang terjadi aku terus melangkah ke depan,
namun setelah semua hal yang terjadi, Aku..
(Jangan ubah pandanganmu tentangku.)
Terlintas di pikiran Riku, walaupun hanya sekejap namun kata-kata itu seakan memenuhi pikiranya.
...hahhh...
Riku mendesah kecil,
sabil melihat ke atas terlihat burung-burung bergerak bebas di pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi.
Beberapa dari meraka terlihat bergerak bebas dari ranting ke ranting, dengan berwarna kuning dan coklat kemerahan.
dan beberapa yang lain memiliki warna merah-jingga.
Riku memandang ke atas, namun pikiran dan hatinya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Apakah yang tadi itu pesan dari pikiran.
Sambil menyandarkan tubuh di sebuah pohon besar Riku terus memikirkan hal yang di sebut mimpi itu.
Hembusan angin membuat beberapa daun berterbangan ,Terlihat gumpalan asap masih keluar dari beberapa kayu yang terbakar,
asap yang keluar menandakan perkemahan sementara yang ia lakukan pada malam hari.
Udara yang cukup dingin membuat Riku tersadar ia sedang berada di atas pohon.
terlihat ada beberapa kulit kepompong tipis menempel di lengan bajunya.
*Fyuuushhhh* Terdengar suara terpaan angin,
Tidak ini bukan angin, Tiba-tiba seketika tubuh Riku menjadi kaku.
"Ooowaahhhh"
Riku kehilangan keseimbangan dan jatuh menyentuh tanah.
Apa yang sebenarya terjadi---
...eh....
Menoleh di hadapanya terdapat anak panah menancap di pohon.
Terlihat anak panah yang menumbus pohon itu bukan anak panah dari logam, Melainkan panah yang berasal dari sihir,
Kobaran sihir bewarna biru ke hitaman masih membalut anak panah itu, tak lama kemudian pohon besar itu tumbang dan jatuh,
Untuk sesaat Riku hanya bisa terdiam, ia tidak menyadari dari mana anak panah itu berasal.
Tangan kirinya bergetar.
Hawa panas menyelimuti dan membakar tangan kirinya,
"Arghhhhhh..."
Sebuah teriakan kecil membuat Riku mendesah kesakitan, Tangan kirinya menjadi merah terbakar seakan sedang berada dalam kobaran api.
Rasa panasnya begitu menyaitkan, terlihat jelas tulisan aneh terbentuk di tangan kirinya.
---Kenapa pada waktu seperti ini---
Riku terlihat kesal dan tampak menggerutu sendiri,
sambil mengambil pisau di belakang pinggang ia mengawasi daerah di sekitarnya.
Untuk beberapa saat tidak ada yang terjadi, namun kekhawatiran Riku tidak hilang.
...hemmm....
Riku menarik nafas panjang, terlihat matanya menjadi lebih lebar dan tajam.
Iris matanya mengecil membuat refleknya menjadi lebih besar.
Angin, udara, kelembapan, suara, semua dengan jelas bisa di rasakan,
saat ini Riku memasuki 3 indra, sebuah kosentrasi yang sangat luar biasa dari manusia normal,
ia bisa merasakan detak jantung seseorang dari jarak 10 meter, merupakan kemampuan yang tidak bisa di dapatkan tanpa latihan yang keras.
..husshhh,,, "Suara angin, suara ranting pohon, suara gesekan udara, dimana ...??"
Sambil memejamkan matanya, Riku membiarkan instingnya bekerja, butir-butir keringat mulai memenuhi keningnya, membuat tubuhnya menjadi sangat panas.
"Disana."
Dengan cepat Riku melemparkan pisaunya.
Pisau yang bergerak horizontal membelah daun menjadi dua potong dan menuju ke arah semak-semak,
untuk beberapa saat.
---Tidak ada yang terjadi.
"hah..."
Riku membuang nafas, dan dengan tenang menuju ke arah semak-semak.
"Eh.."
Sebuah sayatan mengenai lehernya, walaupun hanya tergores namun itu membuat Riku terdiam.
Tubuhnya berhenti bergerak, Kakinya gemetar, beberapa saat ia merasa kehilangan kesadaran.
"Ini sihir angin"
Dengan cepat Riku berlari, terlihat jelas wajah pucatnya penuh ketakutan, jantungnya berdetak kencang.
"ARGGHHHH..."
--lebih dari dua orang, apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Melawan meraka adalah kesia-siaan, Riku menyadari itu.
Ia tidak memiliki kekuatan seperti seorang kesatria, atau seorang penyihir, ia hanyalah bocah 16 tahun tanpa kekuatan apapun,
lebih di kenal dengan 0 ability (Zero Ability).
Zero ability adalah orang yang tidak bisa mengeluarkan kekuatan atau menggunakan sihir, dan Riku termasuk salah satunya.
Kebanyakan dari mereka Zero Ability lebih dikenal dengan sebutan budak, karena mereka hanya bisa hidup dengan cara seperti itu.
Menjadi seorang Zero Ability di dunia ini adalah sampah, mereka yang menyandang nama ini tidak bisa hidup dan harus mengandalkan kekuatan fisik. Kematian selalu menghantui mereka, jadi mereka harus memiliki seorang tuan (majikan).
"Sial, sungguh sial"
Riku terus berlari dan menginjak beberapa ranting pohon, membuat beberapa burung berterbangan.
Nafasnya tidak teratur, tubuhnya seakan tidak bisa di control.
Tak ada yang bisa ia lakukan, walaupun sekeras apapun ia mencoba , berkelahi dengan seseorang yang memiliki bakat adalah bunuh diri.
Suhir itu bisa langsung membunuh sebelum aku melakukan serangan.
Riku terlihat menggigit bibirnya, rasa frustasi menghiasai wajahnya.
Sudah sangat jauh, Riku menoleh ke belakang.
"Mereka tidak mengejar"
"huff.. untunglah."
Sambil mengeluarkan nafas panjang dan dengan persaan lega.
"Ternyata mereka hanya mau mengambil barang-barang ku"
Sambil membungkuk ke depan dengan tangan memegang lutut,
ini adalah hal yang menyedihkan, tanpa ada perlawanan,
..Aku memang Pecundang..
Riku menahan keinginanya untuk segera duduk, terlihat dari kejauhan sebuah danau terbentang.
---Kreookk---
Perutnya berbunyi, sebuah reflek dari tubuh mengatakan bahwa aku harus cepat diisi.
Setelah kejadian tadi ia kehilangan uangnya,
Obat-obatan dan beberapa kristal yang di dapatakan dari membunuh hewan di malam hari.
"Sunggu sial"
Riku berjalan dengan pelan , rasa sakit di tanganya masih terasa,
untuk sesaat tangan kirinya serasa tidak bisa di gerakan.
Suara kicauan burung menemani Riku menuju Danau, hembusan angin cukup untuk melepaskan penat.
Walaupun tidak begitu jauh namun Riku enggan untuk berlari, ia selalu di ajarkan untuk tetap tenang dan selalu mengawasi daerah sekitar.
Matahari berada pada sudut 40' namun ini sudah membuat Riku bermandi keringat.
Ia sangat lelah setelah pelarian jauhnya, Rasa haus telah membening di pikiranya.
Beberapa detik tubuh Riku terasa bergetar, dadanya mulai terasa berat , nafasnya menjasi lebih sesak.
Pandangannya mulai terlihat kabur, semua alat tubuhnya menjadi mati rasa.
Tubuhnya jatuh menyentuh tanah, detak jantungya mulai melambat.
Riku mulai merasa kehilangan kesadaranya, matanya mulai menyempit, seketika semuanya menjadi gelap.
Tangan kiri Riku bercahaya, seketika ia tersadar.
"Di saat seperti ini"
---Terima kasih kau telah menyadarkan ku.
Sakit yang berasal dari tangan kirinya membuatnya menjadi sadar dengan posisi merangkak Riku menuju danau,
hanya tangan kirinya yang bisa ia gerakan, bagian tubuh lainnya masih tidak bisa di gerakan.
Wajahnya terlihat pucat, kelopak matanya hitam seperti orang yang tidak tidur selama 2 hari.
Jantungnya semakin melemah, pandangan di depanya subah membaur.
--Tinggal 2 meter lagi.
Cahaya matahari menambah rasa sakit yang di alami Riku,
tak kusangka mereka menyutikan racun pada sihir angin, mereka bukan orang yang biasa.
"Sampai di sini kah..?"
Nafasnya mulai pendek, oksigen semakin sedikit masuk ke dalam otak.
"Apa aku akan mati disini..??"
Walau jaraknya hanya beberapa centimeter namun itu tidak menghalangi bahwa Riku tidak bisa menyentuh air sama sekali.
......
"Riku..."
"Hey Riku.."
"Genggam tanganku dengan erat."
Terlihat gadis kecil umurnya berkisar 8 tahun, memiliki rambut hitam, dan bermata ungu.
Rambutnya panjang sepingang, terurai lembut di tiup angin ia begitu cantik.
"Riku ayo kesana.."
Sabil tersenyum gadis kecil itu menunjuk ke sebuah dataran yang luas di atas permukaan dataran tinggi.
--Gadis kecil itu terus membawaku
"Riku lihat pemandangan itu"
"Begitu indah kan."
Serpihan Namurian dan batu pasir yang aku injak ini begitu nyata, keindahan hutan terlihat jelas di bawah tebing yang tinggi ini.
--Apa yang harus aku katakan, apa yang harus aku bicarakan.
"Riku, jadi berjanjilah untuk tetap hidup."
Sosok anak kecil itu berubah menjadi seorang yang aku kenal selama ini, namun aku melupakannya.
---Eliza-
"Eliza.."
Riku tebangun, dengan menyebut namanya seseorang yang penting di hidupnya rasa putus asanya berakhir dan rasa kepasrahanya berakhir.
--Aku tidak akan mati disini.
--Sungguh kau memang orang yang menjengkelkan Eliza.
Tubuh Riku mesuk kedalam air, pakainya semua menjadi basah,
air danau cukup dingin membuat bekas luka di leher mulai membengkak,
"Ternyata memang racun"
Mereka bukan hanya mau mengambil barang-barangku namun nyawaku juga.
Admin Note : will be Re:Make Again
The light my Fire (indonesia Light novel)
Reviewed by Dimas Zacks
on
12:48 PM
Rating:
Reviewed by Dimas Zacks
on
12:48 PM
Rating:



Post a Comment